Pages

Showing posts with label etnofotografi. Show all posts
Showing posts with label etnofotografi. Show all posts

Thursday, 20 December 2012

Kenapa Etnofotografi?

Sumber Foto: Tim Ekspedisi Bukit 30 Jambi Mapagama
Tak pelak pertanyaan itu muncul ketika beberapa orang mendengar rencana ini. Kenapa etnofotografi? Apa relevansinya dengan pencinta alam? Pertanyaan yang, jika memakai pemaknaan mayoritas orang tentang pencinta alam sekarang, terdengar sangat wajar. Saat ini, siapapun yang mendaki gunung sering diidentikkan dengan pencinta alam. Bahkan tak jarang para pendaki gunung itu sendiri yang mengidentikkan dirinya dengan pencinta alam, yang sayangnya hanya mereka maknai sebagai sekedar petualang. Karena itu kita miris ketika mendengar Gunung Semeru yang indah itu ditumpuki sampah ribuan pendaki dalam suatu acara pendakian yang begitu heboh dan gegap gempita. Bagi mayoritas orang, pendaki yang menebar sampah itu adalah pencinta alam, walau banyak dari mereka sebenarnya hanya sekedar ingin gagah-gagahan. Pencinta alam hanya jadi sebatas petualang yang penuh keberanian mendaki gunung, menjelajah hutan, berpacu dengan jeram, dan menatah-natah tebing sekian ratus meter.
Sesungguhnya pencinta alam mempunyai kode etik, yang mungkin tidak diketahui orang banyak. ‘Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber daya alam sesuai dengan kebutuhannya’ adalah salah satu butir kode etik itu. Pencinta alam menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya. Semangat yang sama yang diucapkan Soe Hok-Gie, seorang pendaki gunung yang paling dikenang di Indonesia. “Dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman”, begitulah Hok-Gie pernah berkata.
Tapi, kenapa etnofotografi?
Seorang kawan dari kawan mengirim email tentang peranan pencinta alam. Dalam email itu ia sepakat mengenai bahasan pencinta alam berdasarkan buku penelitian tentang masyarakat Kalimantan berjudul “Friction” yang ditulis oleh seorang profesor antropologi di University of California bernama Anna Lowenhaupt Tsing. Disebutkan bahwa pencinta alam bersifat apolitis dan mempunyai tradisi eskapis, lari dari segala macam bentuk hingar bingar politik, dan hanya menyepi dan menyendiri di tengah hutan. Hok-Gie mulai mendaki gunung pun karena ingin menjauh dari hingar bingar politik saat itu.  Pada titik ini kita bisa berdebat dan berbeda pendapat, tapi apolitik tentu tidak sama dengan tidak peduli. Hok-Gie mungkin tidak peduli lagi dengan politik, tapi tentu dia peduli dengan alam dan masyarakat, karena itu ia sungguh tertarik dengan masyarakat di sekitar pegunungan, dengan gaya hidup dan pandangan mereka yang bersahaja tapi kerap penuh makna.
Kami memilih etnofotografi, khususnya etnofotografi dengan tradisi Marxian, karena itulah hal yang bisa kami lakukan untuk masyarakat. Berbeda dengan etnofotografi tradisi deskriptif, tradisi Marxian memandang setara respondennya. Tidak ada ekslusifitas dalam hal siapa yang dipotret dan siapa yang memotret, sebab metodologi yang kami pakai adalah Foto Sebagai Agensi. Foto yang dihasilkan hanya untuk pemicu dalam mengungkapkan hal-hal apapun dalam kehidupan masyarakat. Kajian kami adalah perubahan sosial yang terjadi setelah adanya jalan darat yang menuju desa Nanga Raun. Kami berharap, dengan etnofotografi ini bisa ditemukan hal-hal yang baik setelah adanya akses jalan darat yang dapat terus dilestarikan dan menjadi model pada masyarakat di tempat lain, sekaligus dapat menemukan hal-hal yang kurang baik yang dapat menjadi bahan kajian bagi pemegang kepentingan dalam pembuatan jalan.
Gerakan kami memang masih tetap apolitis, tapi bukan berarti kami tidak peduli. Sebagai bagian dari Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada yang berpegang kepada Tridharma Perguruan Tinggi, kami berusaha agar apa yang kami lakukan sejalan dengan kode etik pencinta alam dan tiga sendi Tridharma, sehingga kegiatan yang kami lakukan bermanfaat bagi kami, bagi alam, kebudayaan, dan terutama bagi masyarakat yang kami datangi. Kami tak ingin hanya sekedar mengeksploitasi masyarakat, tapi kami ingin berdialog dan memahami pandangan hidup mereka, tentang bagaimana mereka memandang  dan memanfaatkan alam yang memberi mereka penghidupan. Etnofotografi tradisi Marxian memberikan kemudahan dalam hal tersebut. Foto yang dihasilkan tak perlu indah, objek yang dipotret tak perlu eksotik, yang penting adalah dengan foto itu dapat memicu ingatan dan pandangan seseorang mengenai dirinya dan bagaimana ia memandang masyarakatnya sendiri.
Kami tak ingin sekedar dicap sebagai pencinta alam dengan makna seperti yang disematkan kepada ribuan pendaki Gunung Semeru yang gegap gempita. Kami ingin gerakan kami bermanfaat untuk keseimbangan dalam pengelolaan alam, siapapun pelakunya. Kami tak ingin sekedar mengambil, kami juga ingin menyumbangkan apa yang kami bisa dan mampu lakukan, yang semata-mata hanya untuk masyarakat, alam, dan kebudayaan.
Hok-Gie berkata ia naik gunung agar dekat dengan masyarakat. Kami berharap kami pun begitu.

Thursday, 13 December 2012

Mapagama dan Etnofotografi

Fotografi memegang peranan penting dalam budaya visual manusia. Di era yang serba cepat ini media gambar lebih mendapat tempat dibanding tulisan, sebab gambar adalah media yang lebih sederhana untuk dilihat. Hasil dokumentasi penelitian yang selama ini berkembang di masyarakat, khususnya Indonesia biasanya dianggap sebagai produk yang serius dan sulit untuk dipahami. Hal ini disebabkan karena hasil penelitian tersebut didominasi dalam bentuk tulisan. Berdasar hal tersebut maka kami tergerak mengadakan penelitian dengan media fotografi, agar hasil penelitian dapat lebih memasyarakat.
Penelitian etnofotografi ini mencoba memperkenalkan pada seluruh masyarakat luas tentang perubahan aspek sosial dan kultural sekelompok masyarakat Dayak Suru’ yang berada di Desa Sepan Padang, Provinsi Kalimantan Barat melalui etnofotografi. Etnofotografi merupakan pendekatan yang menggabungkan relevansi antara etnografi dan fotografi dalam melakukan studi antropologi. Etnofotografi dipilih karena media visual dianggap lebih mampu merepresentasikan realita.
Orang Dayak memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sungai, sebab sungai digunakan untuk mencari penghidupan dan sebagai akses transportasi. Tak heran jika hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti yang berhubungan dengan sungai, termasuk Dayak Suru’ Hulu dan Dayak Suru’ Hile, yang berdasarkan letak geografisnya berada di hulu dan hilir Sungai Manday. Perkembangan zaman membuat akses semakin mudah karena jalan darat dibangun untuk beberapa kepentingan, salah satunya untuk perkebunan dan produksi hasil hutan oleh pemerintah atau swasta. Akses yang makin mudah tentunya memicu terjadinya perubahan-perubahan sosial pada masyarakat Dayak Suru’ yang tinggal di Desa Sepan Padang. Kami ingin mendeskripsikan perubahan-perubahan tersebut melalui etnofotografi, karena dianggap lebih mampu diterima dan dinikmati oleh masyarakat secara lebih populer, sehingga masyarakat dapat mengetahui dan menarik manfaat dari cara suku Dayak Suru’ menyikapi perubahan .
            Bentang alam yang berbukit-bukit di kaki Pegunungan Muller juga menggugah rasa ingin tahu kami tentang gua-gua yang ada disana. Dari desa Sepan Padang perjalanan menuju gua-gua ini memakan waktu 1-2 hari dengan berjalan kami. Sebagai organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada yang berbasis penelitian, kami ingin mengaplikasikan ilmu kami untuk sesuatu yang berguna bagi dunia keilmuan, khususnya speleologi. Kami akan mengadakan survey permukaan, pendokumentasian eksokarst dan endokarst, serta melakukan pemetaan beberapa gua yang ada disana. Harapan kami, hasil kegiatan ini dapat menjadi sumbangan dalam ilmu pengetahuan, khususnya speleologi.